jump to navigation

Merawat & Mendampingi Penderita Stroke April 20, 2009

Posted by lovetropicanaslim in stroke.
trackback

Hati-hati Terhadap Stroke!
Stroke semakin kerap terjadi, hal ini dapat dilihat dengan bertambahnya jumlah penderita. Stroke tak hanya menyerang kelompok usia lanjut, namun kini juga terjadi pada generasi muda yang masih produktif. Stroke terjadi karena adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah akan mengakibatkan aliran darah terhenti serta otak mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini dapat menyebabkan pusing, pingsan, bahkan sampai lumpuh.

Gejala stroke bisa jadi berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh lokasi terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Misalnya, bila terjadi pada bagian sistem syaraf pusat gejala yang terjadi adalah menurunnya fungsi sensorik dan hemiplegia (lumpuhnya anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama), jika terjadi pada bagian batang otak gejala yang timbul adalah penurunan refleks, di bagian cerebral cortex penderita akan mengalami hemineglect, daya ingat menurun dan merasa kebingunan. Sebesar 80% pemicu stroke adalah hipertensi (tekanan darah tinggi) dan arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Faktor lain pemicu stroke diantaranya kolesterol, gangguan jantung, diabetes dan adanya faktor genetis. Gaya hidup yang tidak sehat turut andil atas terjadinya stroke, misalnya merokok (baik aktif atau pasif), konsumsi makanan kurang gizi (junk food, fast food), alkohol, kurang berolahraga, narkoba dan obesitas.

Dampak Stroke
Dampak stroke tidak hanya dirasakan oleh penderitanya namun juga oleh orang-orang terdekatnya (anggota keluarga inti). Dampak psikologis yang sering ditemui adalah depresi. Depresi terjadi karena penderita menyadari bahwa dirinya tidak memiliki stamina seperti sebelumnya, dan dalam kadar yang berbeda, penderita tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal dan secara mandiri kesadaran ini menimbulkan perasaan tidak berdaya, tidak berguna, perasaan menjadi beban orang lain sehingga sering mereka tampak sedih, melamun atau menangis

Situasi pasca stroke bukanlah situasi yang mudah untuk dihadapi. Selain mempengaruhi hubungan di antara anggota keluarga dan penderitanya, kelelahan secara fisik dan mental juga dialami oleh anggota keluarga yang merawat. Keadaan ini tidak dapat dipastikan akan berlangsung berapa lama, tergantung pada kondisi penderita (stroke ringan yang menyebabkan pikun beberapa hal atau stroke berat sampai lumpuh) dan juga penerimaan keluarga akan kondisi ini serta bagaimana mereka menyesuaikan diri menghadapi kondisi tersebut.

Dengan demikian penyesuaian diri memegang peranan penting dan penyesuaian ini dimulai dengan menerima kondisi ini baik oleh penderita maupun keluarga terdekatnya.

Bagaimana Menangani Penderita Stroke?
Tiap penderita stroke bisa mengalami kelainan spesifik sesuai dengan lokasi terjadinya penyumbatan / pecahnya pembuluh darah, oleh karenanya gejala yang ditimbulkan juga berbeda. Secara sederhana ada 2 tipe stroke. Pertama tipe hemorrhagic (perdarahan) bila terjadi pecah dari pembuluh darah di otak. Kedua tipe iskhemik bila terjadi sumbatan aliran darah ke suatu bagian otak. Pembedaan yang mudah, tipe hemorrhagic sering terjadi saat kita beraktivitas (makan, memimpin rapat, berpidato, mengetik, berjalan, mandi dan sejenisnya). Sedang tipe iskhemik biasa terjadi saat istirahat/santai seperti tidur atau saat bangun tidur hendak bangkit, menonton TV, duduk di teras.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh keluarga ketika merawat penderita stroke :
Bila terjadi serangan stroke (seperti contoh di atas), jangan panik. Segera larikan ke rumah sakit – jangan ditunda dalam waktu kurang dari 6 jam, supaya perbaikan sel-sel otak yang rusak bisa semaksimal mungkin. Fase akut stroke pertama dalam 6 jam. Kemudian berjalan sampai sekitar 6 hari (1 minggu). Tetapi keseluruhan fase akut yang berisiko sampai 21 hari.
Melakukan konsultasi dengan dokter, dapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai lokasi terjadinya serangan stroke, dan dampak apa yang ditimbulkan (lumpuh setengah badan, tidak bisa bicara, pikun atau perubahan emosi atau sifat)
Dengan memahami mengenai dampak stroke penderita, keluarga dapat menimbang-nimbang perawatan atau terapi yang sesuai.
Menerima kondisi penderita dan kondisi hubungan keluarga yang akan berubah selama proses pemulihan penderita. Penerimaan keluarga akan meningkatkan waktu pemulihan.
Lakukan penyesuaian – penyesuaian yang perlu, misalnya pengaturan furnitur di rumah untuk memudahkan penderita memulihkan keadaannya, pembagian jadwal di antara anggota keluarga untuk menjaga dan menemani penderita.
Ciptakan lingkungan yang menerima, menyemangati dan positif untuk membangun motivasi serta semangat penderita untuk terus menjalankan terapi, pengobatan dan pemulihannya. Lingkungan yang positif, kondisi psikologis yang sehat akan menjaga fisik penderita dengan lebih baik.
Hindarkan hal-hal yang membawa stress berlebihan pada penderita (misalnya pertengkaran anggota keluarga di hadapan penderita). Bimbing penderita untuk berpikiran positif serta optimis.

Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali menjalani hidup dengan aktivitas normal seperti sedia kala, dan sisanya mengalami cacat yang menetap. Oleh karenanya banyak penderita Stroke yang menjadi stress akibat kondisinya pasca stroke. Namun demikian menumbuhkan sikap optimis bagi penderita akan sangat membantu untuk memulihkan kondisinya. Fungsi keluarga dan kerabat sangat strategis, untuk mendorong dan memotivasi agar proses pemulihan berjalan lancar.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: